Nama Agung Sentausa seolah-olah baru saja muncul di dunia perfilman dengan film BADAI DI UJUNG NEGERI. Banyak yang sudah lupa bahwa sebenarnya, Agung telah memulai debutnya dengan film GARASI. Film tentang anak band yang sudah lama berlalu itu menjadi debut awalnya.
September 2011, Agung tiba-tiba membawa kejutan film tentang tapal batas Nusantara. Keberaniannya patut diacungi ‎​‎ jempol dengan mengambil syuting di kepulaun Riau. Jadi, hampir seluruh adegannya diambil di perairan. Dengan sisipan adegan laga, film ini tentu butuh kemampuan khusus membuatnya.
Usai menonton film BADAI DI UJUNG NEGERI, Jumat (23/09/2011) , Agung bercerita banyak tentang pilihannya membuat film di tapal batas Nusantara. Serta bagaimana repotnya membuat film ini.
Tantangan syuting di laut?
Ngambil di dalam air tuh kan nggak gampang. Pakai alat selam juga kameramennya. Ada batas waktu mesti keluar dari air dulu, isitrahat. Jadi, mesti pinter-pinter atur waktu.
Pakai pemain pengganti nggak?
Ada di titik tertentu karena pemain capek dan butuh istirahat jadi pakai pemain pengganti. Tapi pemain pas fit juga mereka minta waktu ambil gambar diri mereka sendiri.
Gambarnya banyak badai, itu asli atau CGI?
Ajaibnya pas di tengah laut itu terang benderang. Tapi mendung pas mulai syuting, akhirnya kita pakai gambar itu. Gambar mendungnya asli, kita tambahkan efeknya seperti petir sekitar 70-80 persen pakai CGI.
Ada adegan penerjunan perahu dari pesawat, benar-benar asli itu?
Iya, kita dapat bantuan dari TNI pasukan khusus katak. Penerjunan perahu dari pesawat itu udah 7 tahun nggak dilakukan. Jadi butuh 4 hari untuk persiapannya. Kita pakai multi kamera minimum 3 supaya nggak pakai diulang dan nggak hilang adegannya.
Adegan tembak-tembakan juga menantang?
Kalau dibilang kesulitan itu ada terus. Aslinya pas di kapal tanker itu nggak boleh bawa barang yang potensi bawa api. Kan adegan tembak-tembakan banyak di kapal tanker. Pertamina mendukung ngasih kapal yang sedang dirawat, jadi nggak ada muatan BBM-nya lagi kosong. Akhirnya kita nyesuaiin jadwal dari Pertamina. Mintanya 14 hari ternyata dapatnya 7 jam karena harus dipakai nolong kapal lain. Akhirnya bikin dua tim syuting berbarengan di kapal itu.
Berapa lama syuting?
Maunya 45 hari syuting jadi 65 hari. Bergantung sama cuaca soalnya. Nyelam juga maksimal cuma 6 jam di atas air. Perjalanan ke kapal tanker itu juga jauh. Tangganya juga posisinya berdasarkan posisi air jadi kendala cuaca di luar perkiraan kita.
Haji Jojon sempat diangkut dengan plastik karena posisi tangga yang curam banget. Pas udah di atas, dia kapok naik kapal pakai plastik.
Selain senjata ada silat juga?
Iya, ada silat, tembak-tembakan. Kita desain tokoh Nadim, orang lokal yang pinter silat.
Kenapa tertarik bikin film di sana?
Pernah bikin dokumenter, di daerah sana. Suka salah menebak siapa dan kayak apa orang Indonesia. Secara lokasi dia unik banget. Jauh dari Jakarta, sering identik dengan sepi. Tapi ternyata di Riau orang mau ke Johor dan Singapura cuma dua jam.
Bikin ceritanya singkat aja?
Iya, karena pinginnya bikin visual beda tapi tetap menghibur. Awalnya ragu mau ngomong dari kacamata sinis atau optimis. Akhirnya kita putuskan kacamata optimis biar penonton juga nggak capek.
Dapat dukungan TNI, prosesnya?
Alhamdulillah disupport penuh oleh TNI. Kayak pas mau bikin ledakan di rumah, izinnya panjang ya. Karena hubungannya antara TNI, masyarakat sekitar juga. Lucunya sampai pas ledakan banyak binatang yang kabur dan salah masuk orang. Untuk rumah kita bikin dan kita ledakin.