Duta Anti Trafficking Nasional Desak Made Hugeshia Dewi atau Dewi Hughes mengaku terkejut dengan adanya pola pikir di tengah masyarakat bahwa kaum perempuan dapat ‘menghasilkan’ dolar dari pernikahan secara kontrak. “Yang saya tahunya, ada pola pikir masyarakat menginginkan anak laki-laki agar di kemudian hari bisa menjadi penopang ekonomi keluarga,” kata Dewi Hughes. Hughes mengaku, khawatir masih adanya masyarakat yang berpola pikir kalau anak perempuannya bisa menghasilkan uang banyak kalau bisa ikut dalam ‘kawin pesanan’ atau ‘kawin kontrak’ yang masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
“Mereka tidak sadar kalau anak perempuannya sangat rentan menjadi korban perdagangan manusia ketika masuk dalam jurang kawin pesanan tersebut. Saya berharap masyarakat yang berpola pikir seperti itu membuka matanya, karena lebih banyak negatif daripada positif akibat kawin kontrak,” kata Hughes. Dalam kesempatan itu, Dewi Hughes mengajak masyarakat Provinsi Kalimantan Barat, untuk mengatakan tidak jika daerahnya dijadikan tempat transit pengiriman tenaga kerja Indonesia ke negara Malaysia.
“Mari kita bersama-sama mengatakan `say no to transit TKI` untuk pengiriman TKI ke Malaysia,” katanya. Menurut Hughes mengampanyekan menolak TKI, karena banyak ‘kedok’ perdagangan manusia terutama kaum perempuan dengan modus sebagai TKI. Sementara tokoh Tionghoa Kota Pontianak, XF Asali menyatakan, kawin kontrak yang banyak dilakukan kaum perempuan Tionghoa asal Kota Singkawang dengan pria asal Taiwan tidak semuanya berdampak negatif.


